Tayangan halaman minggu lalu

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 September 2011

Sepenggal Tulisan Dinding


jiwa yg lemah , kini perlahan mncoba tuk berlari ..
tinggalkan prasangka hati yg terluka ...
tujuan kini terfokus padanya , jiwa yg lain sedang menanti untuk di miliki ..
berjalan pelan , perlahan tuk mendapatkan ap yg mnjdi tujuan ..
hati ...dan jiwa kini berubah .. tak seperti biasa sebelum ini berubh ..

awal yg biasa kini menjadi tak biasa ??
awal yg ingin berbagi berubah menjadi ingin memiliki



jiwa itu perlahan mulai memulihkan diri
ia bermetamorfosis menuju kesempurnaan hati

mungkin sekarang bukan saatnya ingin memiliki
atau mungkin saja dirimu bukan pemiliknya
setidaknya kau pernah rasa
setitik masalah di lautan kehidupan




belum bisa lisan berbicara siapakah pemiliknya ??
belum bisa hati tergoyahkan tuk jauh darinya ..

mungkin kesempurnaan hati kan diraih jika ia di miliki ...
butuh waktu smuanya kan terjawab ??
...
perjuangan yg mgkin berakhir bahagia atau hanya meninggalkan duka air mata , kita tak tahu ??
saat ini perjuangan itu belum terhenti !!

dan kan selalu ingat tujuan awal dari kehidupan ini ??
masihkah kau ingat ..
Manusia hanya berusaha ..
Manusia hanya berncana ..
Allah lh yg menentukan .. Allah yg memastikan segalanya ...
terkadang apa yg kita inginkan belum tentu terbaik buat kita , ..
jdi semuanya di serahkan kepadanya , Allah memberikan apa yg kita butuhkan bkan apa yg kita inginkan , kata2 itu kan slalu teringat di dalam memori otakku ..
tuk saat ini masih di perjuangkan jiwa yg tak tau siapa pemiliknya ..



tidakkah kau rasa
pasti ada sesuatu yang luar biasa

ketika kau memutuskan untuk terus berjuang
berjuanglah sekuatnya
tapi jangan pernah menyakiti orang – orang disekitarmu
demi tujuanmu itu

adalah wajar perjuangan itu dihiasi dengan air mata
bahkan dengan darah sekali pun

setidaknya pastikanlah bahwa yang kau perjuangkan itu akan membuatmu bahagia
meskipun kau tak tahu akan berakhir seperti apa.

Baca Selengkapnya...

Senin, 11 Juli 2011

Mauku



Sebening embun di penampang daun

Sedingin air dibawah nol derajat

Berlari mengejar angin

Tak perlu tahu arah tujuan

Ramah sudah biasa

Marah pun bisa

Menang kalah tak masalah

Terus belajar baru luar biasa

Usik sedikit langsung kuberi

Tak dapat kawan, lawan pun jadi

Bukan egois

Hanya jujur tak bisa disimpan

Tak ada aturan yang berlaku...

Baca Selengkapnya...

SWH


Jauh, tak bisa datang
Lelah, tak sanggup berjalan
Sakit, tak mau bepergian

Memangnya kau pikir tujuanmu di belahan bumi paling ujung
Memangnya kau kira perjalananmu selelah mendaki gunung sinabung
Memangnya kau rasa, sakitmu akan bertambah payah bila berjumpa denganku

Tak terbacakah jejak-jejak kerinduan di setiap smsku
Menanti pertemuan walau hanya dengan sebuah senyuman

Sudahlah, tak usah mengeluh hingga berpeluh. Berpuluh-puluh alasanmu telah menyimpan senyum manisku

Baca Selengkapnya...

Sabtu, 04 Juni 2011

Rindu Tanah Basah

Daun kering berjatuhan melepas kerinduan pada tanah
Hilang sudah hijaunya tak segar lagi
Sudah kulepaskan ikatan dengan ranting
Sampai matahari pun tak mampu mengusiknya
Kau tawarkan debu yang berteberangan
Padahal rinduku pada tanah basah
Hujan turunlah
Biar basah tanah ini kurasa

Baca Selengkapnya...

Rabu, 04 Mei 2011

Keniscayaan

Melaju dihempas ombak

Disebarluaskan oleh angin laut

Semakin panas dibakar matahari

Ricuh oleh ocehan yang semakin merusuh

Isu berkembang biak bagai protozoa yang membelah diri


Tubuhku diam tak beraksi

Saksikan dirimu yang semakin memanas

Diantara peristiwa yang semakin mematikan

Tak perlu ribut

Tak perlu berunjuk rasa apalagi memaki

Karena rakyat tak punya suara

Hanya jemariku yang selalu menari

Sampaikan apa yang ku dengar, ku rasa dan ku ketahui

Masih kulihat simbol kejayaan

Dibalik tubuhmu yang semakin rapuh

Harapan pun masih tersembunyi

Dibalik janin milik wanitamu

Masih ada bahagia

Dibalik canda anak-anak berseragam putih merah


Duhai yang mengaku pejuang

Bertarung tak hanya dengan pedang

Karena kata-katamu bisa lebih tajam dari kelewang

Tak harus menang sekarang

Meski pengorbanan telah kau berikan

Karena kebangkitan adalah keniscayaan

Baca Selengkapnya...

Rabu, 27 April 2011

Daripada Kosong




Daripada bulan ini kosong nggak ada postingan.
Terpaksalah posting puisi yang gagal dikirim, karena salah tema.

Cekidot..



Keberadaanku

Menghirup aroma tubuhku di laut

Berkilauian di terpa sinar matahari sore

Menciptakan siluet senja diatas bibir pantai

Berjalan menapak tak berujung

Tak punya kawan tak punya harap

Tak pernah ingin berhenti

Seperti debu beterbangan yang asyik menari

Pergi sesukanya jamahi semua tempat


Jangan merinduku hanya pada satu masa

Sungguh orang mati pun masih memerlukanku

Kau rusak aku, aku diam

Kau campakkan aku, aku juga diam

Kau diam pun, aku tetap membisu


Aku memang tak bernyawa

Tapi tanpa ku kau takkan berharga

Tunggulah aku hadir dihadapanmu

Ketika mendung menyapa

Baca Selengkapnya...

Rabu, 23 Februari 2011

ya Ya ya


Kata
Kata-kata itu
Bagai air di padang pasir
Cukup menggairahkan
Untuk mengejar semua cinta yang ada di muka bumi

Suara
Suara itu
Suara yang dia cari
Suara hati yang suci
Suara itu hilangkan kegelisahan hatinya
Suara itu membawa alam pikirannya melayang
Suara itu
Suara itu kini telah hilang

Bukan diriku
Kala mulut tak sanggup berucap
Kala hati tak sanggup berharap
Biarkan aku tak setia dalam penantianku
Hancurkan semua harapan itu
Hilangkan segala impian
Karena aku
Bukan diriku

Baca Selengkapnya...

Selasa, 08 Juni 2010

Puisi tak Puitis


Sebuah Kesempurnaan

Lantunan nada indah itu
Membuatku terdiam dan terhenyak
Bingung dilanda kesepian
Tak ada yang salah
Hanya diri ini yang ego
Ingin ciptakan sebuah kesempurnaan

Maaf
Kata yang paling aku benci
Ternyata
Bisa keluar juga dari mulutku
Maaf untuk semuanya
Maafkan aku
Untuk yang terakhir
Putaran Kehidupan
Jujur
Aku bosan dengan semuanya
Coba berlari sejauh mungkin
Dari semua kenyataan yang begitu memuakkan
Tapi kuterjebak oleh labirin kehidupan
Ingin kuberteriak minta tolong
Namun, keegoan itu menghalangiku
Kini
Semua itu sirna sudah
Saat kumerasakan indahnya kehidupan

Terpekur Sendiri
Untaian batu itu tersusun rapi
Ajakkku berlari membasahi kaki
Cahaya matahari pun terpantul dengan baur
Angkat semua impian bersama desiran angin
Buang kegelisahan bersama gemercik air
Hingga terpekur sendiri
Diam dan menenangkan

Liburan Kali Ini
Liburan kali ini
Semua berubah
Saat kau berikan benda itu
Lalu kau tinggalkanku
Ibarat sebuah buku yang minta ditulis
Memoriku pun akan selalu kutulis
Tentang semua ini.

Gadis Itu
Gadis indah itu berjalan dengan tangan yang mengayun
Semakin cepat bagai pelari maraton
Masih sempat kutatap wajah manisnya
Ceria bak seorang ibu yang telah melahirkan anaknya
Brak!
Kucoba terus mengikuti bayangan gadis itu
Namun yang kudapati hanyalah kerumunan orang disekitarku

Puaskah Kau
Tak usah kau beri aku nasi
Dengan segelas air pun aku masih bisa hidup
Usah kau berkata lagi
Ocehanmu itu mengoyak hatiku
Tak usah kau beri aku janji apalagi harapan
Sungguh aku muak dengan semua itu
Musnahkan saja aku dengan kekuasaanmu
Agar puas hatimu menindasku

Akhirnya
Gerakan itu
Mengubah semuanya
Membuat sesuatu yang berbeda
Bagai panas yang mencairkan es
Akhirnya
Senyum simpul itu pun kudapatkan
Didalam keranda indah bernama kematian

Tanda itu
Baju itu masih disini
Di dinding sepi tak berpenghuni
Tanda itu pun masih ada
Warna merah di bawah saku
Hapuskan harapan dengan sekejap
Hingga suram kulihat dunia

Pagi Ini
Dibawah langit duka pagi ini
Warna merah itu kulihat lagi
Suara suara itu pun memecah kesunyian
Sisakan serpihan kesedihan
Ciptakan suram masa depan

Kenyataan
Kubuka mata
Tatap dunia penuh makna
Kupasang telinga
Dengar semua berita
Risau hati ini dibuatnya
Saat tak ada satu kata pun yang terucap dari bibirnya.

Sepatu Sang Majikan
Sepatu ini kini sendirian
Tak lagi berjalan dengan sang majikan
Hanya diam di rak
Merajuk ingin dipakai
Tak ditemukannya tuannya
Dan akhirnya
Dia pun usang di telan zaman

Baca Selengkapnya...

Jumat, 19 Maret 2010

Tak Pernah Sama

Gerakan itu
Mengubah semuanya
Membuat sesuatu yang berbeda
Bagai panas yang mencairkan es

Di detik berikutnya
Senyum simpul itu kudapatkan
Didalam keranda indah bernama kematian

Baca Selengkapnya...