Melihat mesjid ini, pikiranku melayang mengingat peristiwa beberapa tahun silam. Ketika aku masih mengenakan seragam putih abu-abu. Waktu itu, aku bersama 2 orang temanku mengikuti acara PSI (Pagelaran Seni Islami) yang diadakan oleh Unimed. Acaranya selesai kira-kira pukul 12.30.
Kami pun berpisah menuju rumah masing-masing. Aku langsung pulang saja. Walaupun kutahu sekitar 20 menit lagi akan berkumandang adzan dzuhur.. Ketenangan yang dipancarkan mesjid ini pun tak bisa memaksaku untuk singgah kedalam
Setelah menunggu cukup lama, angkot yang kutunggu belum juga kelihatan. Langsung saja aku naik angkot 67 walaupun nanti harus dua kali naik angkot. Kata temanku angkot ini melewati Padang Bulan.
Ternyata ….
Aku salah jalan alias nyasar. Pertama lihat Jl Williem Iskandar/Pancing. Aduh! Nyasar nih karena tadi waktu pergi aku tidak melewati jalan ini. Tapi, sudahlah kata temanku angkot ini sampai P. Bulan
Sambil terus memasang muka sok tahu aku berdzikir dalam hati. Aku melihat tulisan Jl bhayangkara. Aduh! Betul-betul nyasar nih. Gawat deh. Sudah tenang saja, sebentar lagi juga sampai (pikirku dalam hati).
Selanjutnya kulihat tulisan “Selamat Datang di Kawasan Tembung”. Betulkan nyasar! Ya sudah, dengan muka sok tahu aku turun dan kembali lagi ke Unimed.
Aduh! Jadi menyesal nih maunya cepat. Eh malah jadi lama. Andai saja aku sholat dzuhur dulu. Tapi sudahlah, perjalananku masih panjang. Aku naik angkot arah P. Bulan
Aku masih bersyukur karena tidak nyasar terlalu jauh. Langsung saja kubuka dompetku untuk membayar ongkos. Namun, tak kutemukan dompet di tasku. Aduh! Apalagi ini.
Kuraba kantung celanaku, alhamdulillah masih ada uang untuk ongkos.
Setelah sampai padang bulan, aku langsung melanjutkan perjalanan menuju rumah. Akhirnya, aku sampai di rumah pukul 14.15.
Aku langsung berwudhu dan sholat dzuhur. Ku renungkan apa yang telah terjadi hari ini. Terdiam sesaat dan akhirnya aku terhenyak sadar. Mungkin saja semua ini terjadi karena aku tak sabar menunggu 20 menit untuk mendengarkan adzan dzuhur dan sholat berjamaah di mesjid itu.
Hari ini, aku tak ingin mengulang peristiwa itu.
Ku langkahkan kakiku menuju mesjid ini, mesjid yang sama dengan beberapa tahun silam.
Selalu menyebut nama tanpa ada embelan ‘akhi’ pada para ikhwah teman sebaya membuat saya dikatakan kasar oleh salah seorang diantara mereka. Katanya, cuma saya satu-satunya akhwat yang memanggilnya dengan nama saja. Wah! Gawat nih langsung saja saya minta maaf padanya. Permintaan maaf pun diterima dan dia pun mengatakan “Tidak masalah, tak usah formal-formal kali”
Wah! Ngeri juga ya. Gitu aja dikatakan kasar. Kalau satu orang dari mereka mengatakan saya kasar, jangan-jangan semua ikhwan yang saya panggil namanya tanpa embel-embel ‘akhi’ menganggap saya kasar juga. Yah, mungkin dibenak mereka akhwat itu selalu lembut dan manis. Tapi tak apalah, bukan masalah besar kurasa.
Yang penting saya nyaman memanggil nama mereka saja tanpa embel-embel ‘akhi’. Senyaman saya memanggil ikhwan yang lebih tua dengan panggilan ‘kak’ daripada ‘pak’, karena tak mungkin memanggil mereka’bang’ apalagi ‘om’.
Sebegitu penting kah kata sapaan di dalam interaksi ini ? Membuatku bertanya pada seorang kakak. Dia mengatakan panggilan ‘akhi’ hanya untuk menunjukkan rasa persaudaraan yang dapat mempererat ukhuwah islamiyah dan lebih sopan. Lain halnya ketika kita sudah mengenalnya sebelum sama-sama masuk ke lingkaran ini, sebab akan terasa canggung jika memanggilnya dengan sebutan ‘akhi’ atau ‘ukhti’. Tak ada kata persetujuan dan larangan yang keluar dari kata-katanya.
Saya juga pernah ditegur oleh seorang teman ketika memanggil seorang ikhwah yang usianya lebih tua sekitar 6 tahun dengan panggilan ‘kak’.
Dengan matanya yang hampir mendelik dia berujar,
“Bukan Kak tapi Pak”
Emmhh, okelah lagi-lagi masalah sapaan. Yang dipanggil dengan sebutan kakak saja tak pernah protes.
Lalu, saya pun teringat peristiwa di syura kemarin, pembicaraan berputar-putar antara progja dan gebrakan baru untuk semester depan. Semuanya berjalan apa adanya, tak ada yang istimewa hanya saja tak ada sekum kami disana. Dan ini bukanlah masalah utamanya, karena pasti kan ada orang yang akan menggantikannya.
Pembicaraan mengalir dan mendaulat si Kawan yang sedang mengenakan jilbab biru itu mengeluarkan pendapatnya.
“Jadi gini Bang, bla bla bla” terang si Kawan pada ketua kami.
Lantas kudengar ada suara tawa, dan aku pun ikut tertawa. Sekilas kulihat wajah ketua kami, ternyata ia pun tersenyum. Ku lihat telunjuk temanku yang satunya mendekat ke bibirnya seperti memberi komando agar si Kawan segera berhenti. Si Kawan pun tak mendengarnya dan tetap saja berbicara dengan abangnya itu.
Ada rasa yang meggelitik saat si Kawan menyebut ‘bang’, terlebih lagi pada saat syura yang seharusnya formal. Walaupun kurasa syura kami tak pernah formal. Bagiku terdengar riskan panggilan ‘abang’mu itu ketika kita melakukan syura.
Cuplikan diatas memang bukanlah hal yang terlalu penting untuk dibahas. Tapi aneh rasanya jika peristiwa tersebut dilakukan oleh suatu wadah di bawah bendera. Menyebut nama tanpa ‘akhi’ saja sudah dikatakan kasar. Memanggil ‘kak’ tanpa ‘pak’ saja ada yang protes. Lalu bagaimana dengan panggilan ‘bang’ yang terlontar ketika sedang melaksanakan syura ?
Salahkah aku memprotes panggilan ‘abang’mu itu ?
Yah ! mungkin saja kau sudah mengenalnya terlebih dahulu sebelum kita bersama-sama memasuki wadah tersebut.
Tapi tetap saja beda kan! Duhai yang mengaku dirinya aktivis dakwah. (Ri_Rus)
TUJUAN PERCOBAAN
Mengamati perubahan keadaan tahu yang diberi formalin dan yang tidak diberi.
DASAR TEORI
Asam benzoat (C6H5COOH) merupakan pengawet yang paling sering digunakan terutama pada mamin asam, karena bekerjanya efektif pada pH 2,5-4,0. Benzoat digunakan karena bisa mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri. Umumnya produsen menggunakan bentuk garamnya, yaitu natrium benzoat. Karena di dalam tubuh, garam tersebut akan terurai menjadi asam benzoat yang tidak terdisosiasi.
Di samping itu tubuh mempunyai sistem autodetoksifikasi terhadap asam benzoat, sehingga tidak terakumulasi dalam jaringan tubuh selama tidak dikonsumsi berlebihan.
Umumnya asam benzoat bisa bereaksi dengan glisin membentuk asam hipurat yang tidak berguna dan akan dibuang oleh tubuh. Efektif bekerja pada pH basa, 6,5. Selain natrium benzoat, pengawet yang mau diamati adalah formalin.
Formalin merupakan larutan komersial dengan konsentrasi 10-40% dari formaldehid.
Bahan ini biasanya digunakan sebagai antiseptic, germisida, dan pengawet. Formalin mempunyai banyak nama kimia diantaranya adalah : Formol, Methylene aldehyde, Paraforin, Morbicid, Oxomethane, Polyoxymethylene glycols, Methanal, Formoform, Superlysoform, Formic aldehyde, Formalith, Tetraoxymethylene, Methyl oxide, Karsan, Trioxane, Oxymethylene dan Methylene glycol. Di pasaran, formalin bisa ditemukan dalam bentuk yang sudah diencerkan, dengan kandungan formaldehid 10-40 persen.
Akibat jangka pendek yang terjadi biasanya bila terpapar formalin dalam jumlah yang banyak, Tanda dan gejala akut atau jangka pendek yang dapat terjadi adalah bersin, radang tonsil, radang tenggorokan, sakit dada, yang berlebihan, lelah, jantung berdebar, sakit kepala, mual, diare dan muntah. Pada konsentrasi yang sangat tinggi dapat menyebabkan kematian.
Meskipun dalam jumlah kecil, dalam jangka panjang formalin juga bisa mengakibatkan banyak gangguan organ tubuh. Apabila terhirup dalam jangka lama maka akan menimbulkan sakit kepala, gangguan sakit kepala, gangguan pernafasan, batuk-batuk, radang selaput lendir hidung, mual, mengantuk, luka pada ginjal dan sensitasi pada paru. Gangguan otak mengakibatk efek neuropsikologis meliputi gangguan tidur, cepat marah, gangguan emosi, keseimbangan terganggu, kehilangan konsentrasi, daya ingat berkurang dan gangguan perilaku lainnya. Dalam jangka panjang dapat terjadi gangguan haid dan kemandulan pada perempuan. Kanker pada hidung, ronggga hidung, mulut, tenggorokan, paru dan otak juga bisa terjadi.
ALAT DAN BAHAN
Alat : Pisau, Pipet Tetes, Spatula.
Bahan : Formalin 10%, Kaca Arloji,Tahu.
PROSEDUR
1. Sediakan tahu yang mau di uji.Sampel tersebut harus bebas dari pengaruh zat pengawet.
2. Bagi tahu tersebut menjadi 2 bagian yang sama rata.
3. Bagian pertama ditetesi dengan dengan formalin 10% sebanyak 3 ml, bagian kedua di beri, sedangkan bagian terakhir dibiarkan tanpa bahan pengawet.
4. Letakkan masing-masing tahu di kaca arloji
5. Diamkan selama 12 jam, dan amati perubahan yang terjadi.
6. Bandingkan kedua hasil tersebut. Catat kesimpulannya.
Aku mnulis bkan krn aku tau apa yg mw kutulis.
Aku mnulis krna aku ingin mnulis.
Tak ada kisah, tak ada cerita, hanya ada mau.
Dsini smw brbda, yg sholehpun tak nampak lagi kesholehannya. Tak pernah ada kjujuran krna smw slg mndiamkan. Yg baik pun tak lgi baik, krna baik dan buruk sama saja. Tapi dsini masih ada hati yang harus tetap dijaga.
Dari sini, kudengar kabar. Ada tangisan disana. Jeritan suara hati yg belum waktunya memiliki. Tak pernah ada cerita yang kudengar, hanya saja tangisan itu terlihat jelas di setiap pesannya. Tak pernah bermaksud untuk menasehati, hanya saja ku ingin dia tersenyum kembali. Kukirimkan beribu pesan dan beribu doa, berharap ia baik-baik saja.
Dsana, drumah tak beratap namun berpondasi. Kulihat ada letih dengan pertengkarannya yg tak pernah selesai. Pasti ada lelah, dan terkadang ingin menyerah. Tapi jelas ada bahagia dsana, nyata terlihat dalam setiap kata. Di tempat itu, tak perlu ada teori karena smw jiwa bergerak demi satu tujuan. Memang ada salah dan stiap jiwa brusaha mmperbaikinya. Di tempat itu, ada perbedaan, ada ricuh serta ada senyuman tulus yg sangat indah. Inginku pergi melarikan dri dari rumah itu, namun tak pernah bisa pergi jauh.
Dirumah tepas itu, kulihat ada sayang, pasti ada cinta dan ada aku juga. Sayang yg tak pernah dikatakan, namun selalu bisa dirasakan.
Cinta yg tak pernah diucapkan, namun selalu ada pengorbanan. Semua terasa indah saat sudah memasuki batas usia. Baru tersadar, bahwa mereka yg bsa membuatku bhgia. Hanya mereka yg bsa membuatku tersenyum. Semoga masih ada waktu mereguk manisnya hubungan itu, di akhir batas usia mereka.
Jauh dsana, di tanah yg brhektar-hektar luasnya. Dia sendirian, memendam rindu yg tak berpengharapan dan akhirnya jatuh sakit di semester pertama. Ya Allah, kuingin dia menjadi salah satu tentaraMu. Karena q tak bsa menjaganya. Kusampaikan doa rabithahku padanya, jadikanlah ia pejuang di jalanMu
Pergi tak meninggalkan jejak.
Bukan untuk rehat sejenak.
Tapi, memang tak cukup bergairah menyusun kata-kata bermakna.
Sampai waktu yang tak ditentukan.
Karena driku, bukan driku lagi.